PT Bumi Resources Tbk BUMI
πŸ“… 29 Mei 2026 ⛏️ Pertambangan Batu Bara & Mineral πŸ›οΈ IDX: BUMI πŸ’Ή Harga: Rp 185 (per 24 Mei 2026)

Produsen batu bara terbesar di Indonesia yang sedang bertransformasi menuju perusahaan tambang multi-komoditas dengan ekspansi ke emas, tembaga, dan mineral strategis.


Kapitalisasi Pasar
Rp 68,7 T
185 Γ— 371,3 miliar saham
Pendapatan FY2025
USD 1,42 M
β‰ˆ Rp 22,8 triliun (+4,8% YoY)
Laba Bersih FY2025
USD 81 jt
Attributable ke induk (+20,1% YoY)
Dividen per Saham
Rp 0
Belum membagikan dividen

🏒 Profil Singkat

PT Bumi Resources Tbk adalah perusahaan induk sektor pertambangan yang berdiri sejak tahun 1973 dengan nama PT Bumi Modern. Awalnya bergerak di bidang perhotelan dan pariwisata, perusahaan ini melakukan transformasi mendasar pada akhir 1990-an dan mulai masuk ke sektor energi dan sumber daya alam. Berganti nama menjadi PT Bumi Resources Tbk pada tahun 2000, perseroan kini diakui sebagai salah satu produsen batu bara terbesar di Indonesia dan salah satu yang terbesar di dunia.

Titik balik terbesar dalam sejarah BUMI terjadi pada 2001 ketika perusahaan mengakuisisi PT Arutmin Indonesia dan kemudian PT Kaltim Prima Coal (KPC) β€” dua nama raksasa dalam industri batu bara nasional. Langkah ini menjadikan BUMI sebagai pemain dominan di pasar batu bara termal, dengan konsesi tambang yang tersebar di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Kini, dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp 68,7 triliun, BUMI berada di antara 30 emiten terbesar di Bursa Efek Indonesia berdasarkan nilai pasar.

Pada 2026, perusahaan memasuki babak baru melalui peluncuran identitas visual baru yang menegaskan transformasi strategis dari produsen batu bara menuju perusahaan tambang multi-komoditas yang menyasar emas, tembaga, wolfram, dan mineral lainnya. Dua ultimate beneficial owner utama adalah Anthoni Salim (Grup Salim) dan Nirwan Dermawan Bakrie (Grup Bakrie), yang secara bersama mengendalikan perusahaan melalui berbagai entitas holding.

AtributDetail
Nama ResmiPT Bumi Resources Tbk
Kode SahamBUMI (IDX)
Berdiri1973 (sebagai PT Bumi Modern)
IPO / Listing IDX1990
Kantor PusatBakrie Tower, Jakarta, Indonesia
Sektor / Sub-sektorPertambangan / Batu Bara & Mineral
Jumlah Saham Beredar371.335.392.068 lembar
Mata Uang PelaporanDolar AS (USD)
Karyawan (est.)> 25.000 (termasuk anak perusahaan)
Entitas PengendaliMach Energy (HK) Ltd β€” Anthoni Salim & Nirwan Bakrie

βš™οΈ Model Bisnis

BUMI beroperasi sebagai perusahaan holding yang mengendalikan aset-aset pertambangan strategis melalui kepemilikan saham di sejumlah anak usaha dan entitas asosiasi. Pendapatan utama mengalir dari dua pilar besar: penjualan batu bara termal yang menyumbang sekitar 82,5% dari total pendapatan, dan penjualan emas serta perak yang memberikan kontribusi 17,5% β€” angka yang terus meningkat seiring akuisisi mineral strategis yang dilakukan perseroan.

Rantai Nilai Batu Bara

Seluruh proses penambangan batu bara berpusat di Kalimantan melalui dua anak usaha utama: PT Kaltim Prima Coal (KPC) yang dimiliki 50,99% dan beroperasi di Sangatta, Kalimantan Timur, serta PT Arutmin Indonesia yang dimiliki 90% dan beroperasi di Kalimantan Selatan. Batu bara yang ditambang kemudian diangkut melalui sistem conveyor dan jalan tambang menuju pelabuhan pemuatan, lalu dikirimkan ke pelanggan domestik seperti PT PLN maupun pelanggan ekspor di Asia Timur dan Asia Selatan.

Pada FY2025, total produksi batu bara mencapai 74,8 juta ton (naik tipis 0,2% YoY) dengan penjualan 74,6 juta ton. Harga rata-rata FOB (Free on Board) tercatat USD 59,7 per ton, turun signifikan 17% dari USD 71,8 per ton di 2024 β€” mencerminkan tekanan dari koreksi harga batu bara global pasca supercycle 2022. Meski harga turun, BUMI berhasil meningkatkan margin bruto dari 12,5% menjadi 17,5% melalui efisiensi biaya produksi yang agresif.

Segmen Mineral: Mesin Pertumbuhan Baru

Sejak 2024, BUMI secara aktif mendiversifikasi ke segmen mineral. Pada November 2025, perseroan menuntaskan akuisisi penuh tambang Wolfram dan sebulan kemudian mengakuisisi tambang emas Jubilee. Kedua tambang ini dijadwalkan memulai produksi komersial pada Agustus 2026. Selain itu, anak usaha pertambangan mineral PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) memberi eksposur tambahan ke emas dan logam lain. Target ambisius perseroan adalah membuat kontribusi EBITDA dari non-batu bara mencapai 40% pada 2027, dan menyeimbangkan porsi antara batu bara dan mineral pada 2031.

Model Pendapatan dan Pelanggan Kunci

Pendapatan BUMI berasal dari kontrak jangka panjang dengan pembangkit listrik dan industri, serta penjualan spot di pasar komoditas internasional. Pelanggan domestik utama adalah PLN melalui kewajiban Domestic Market Obligation (DMO), sementara ekspor menyasar negara-negara seperti India, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok. Diversifikasi pelanggan ini memberi perlindungan parsial dari volatilitas harga pasar tunggal, meski ketergantungan pada harga batu bara global tetap menjadi faktor risiko utama.

πŸ“Š Kinerja Keuangan

Perjalanan keuangan BUMI dalam lima tahun terakhir adalah cermin dari siklus komoditas batu bara yang dramatis. 2022 menjadi tahun kejayaan ketika harga batu bara Newcastle melonjak di atas USD 400 per ton akibat krisis energi Eropa pasca invasi Rusia ke Ukraina β€” pendapatan BUMI diperkirakan melonjak ke level tertinggi selama beberapa tahun. 2023 menandai koreksi tajam ketika harga batu bara kembali ke level normal, menekan margin dan laba bersih perusahaan. 2024 menjadi tahun konsolidasi dengan pendapatan USD 1,36 miliar dan laba bersih (induk) USD 67,5 juta. 2025 menunjukkan pemulihan yang terukur: pendapatan naik 4,8% menjadi USD 1,42 miliar, namun yang lebih mengesankan adalah laba usaha yang melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi USD 141,3 juta berkat efisiensi biaya yang nyata.

Dari sisi neraca, total aset mencapai USD 4,22 miliar per akhir 2025. Kas meningkat signifikan dari USD 52,5 juta menjadi USD 118,6 juta β€” menandakan membaiknya kesehatan likuiditas. Rasio lancar naik dari 1,01x menjadi 1,25x. Perseroan juga menyelesaikan kuasi-reorganisasi yang mengeliminasi defisit akumulasi historis sebesar USD 2,28 miliar, membuat struktur ekuitas tampak lebih bersih untuk periode ke depan. Saldo laba ditahan pada akhir 2025 tercatat USD 81 juta β€” awal dari fondasi baru setelah reorganisasi.

Pendapatan & Laba Bersih (Induk) β€” USD Juta, 2021–2025
Margin Laba Bruto & Laba Usaha (%), 2021–2025

Tabel Rasio Keuangan Utama

Rasio-rasio berikut dihitung menggunakan harga saham aktual Rp 185 per lembar (per 24 Mei 2026) dan kurs referensi Rp 16.000/USD.

Rasio2023 (est.)20242025Catatan
PER (x)β€”38,6x52,6xHarga Rp 185 Γ· EPS Rp 3,52
PBV (x)β€”β€”2,66xHarga Rp 185 Γ· BV Rp 69,6
DER (x)0,52x (est.)0,45x0,46xTotal liabilitas Γ· total ekuitas
ROE (%)3,5% (est.)4,2%5,0%Laba induk Γ· ekuitas induk
Margin Laba Bruto (%)11,0% (est.)12,5%17,5%Perbaikan signifikan 2025
Margin Laba Usaha (%)3,5% (est.)4,5%9,9%Efisiensi biaya operasional
Dividend Yield (%)0%0%0%Belum membagikan dividen
Current Ratio (x)0,95x (est.)1,01x1,25xLikuiditas membaik
Market Capβ€”β€”Rp 68,7 T185 Γ— 371,3 miliar saham

(est.) = estimasi berdasarkan tren industri dan data parsial yang tersedia. Data 2024–2025 berdasarkan laporan keuangan audited.

πŸ₯§ Struktur Kepemilikan & Segmen Bisnis

Kepemilikan BUMI terkonsentrasi pada dua kelompok konglomerat besar Indonesia. Mach Energy (Hong Kong) Ltd β€” kendaraan investasi yang mewakili kepentingan Anthoni Salim dan Nirwan Dermawan Bakrie β€” menguasai 45,78% saham, menjadikannya pemegang saham pengendali tunggal terbesar. Di bawahnya, Treasure Global Investment memegang 8,08%, diikuti HSBC Fund/Chengdong Investment Corp (7,21%) dan UBS Switzerland AG (5,10%) yang merupakan investor institusional internasional. Sisa sekitar 27% dipegang oleh publik melalui pasar sekunder IDX. Struktur kepemilikan terkonsentrasi ini memberi stabilitas kendali, namun juga berarti pemegang saham minoritas memiliki pengaruh terbatas dalam pengambilan keputusan strategis.

Struktur Kepemilikan Saham BUMI (%, Nov 2025)

Dari sisi komposisi pendapatan, batu bara tetap menjadi tulang punggung bisnis dengan kontribusi 82,5% dari total pendapatan FY2025 (USD 1,17 miliar). Namun, segmen emas dan perak mencatatkan pertumbuhan yang mengesankan, menyumbang USD 249 juta atau 17,5% dari total β€” naik dari proporsi yang lebih kecil di tahun-tahun sebelumnya. Tren ini akan semakin menguat seiring beroperasinya tambang Wolfram dan Jubilee pada paruh kedua 2026.

Komposisi Pendapatan per Segmen FY2025 (USD Juta)

Anak Usaha Utama

EntitasKepemilikanLokasiKomoditas
PT Kaltim Prima Coal (KPC)50,99%Sangatta, KaltimBatu bara termal
PT Arutmin Indonesia90,00%Kalimantan SelatanBatu bara termal
PT Pendopo Energi Batubara84,48%Sumatera SelatanBatu bara
PT Bumi Resources Minerals (BRMS)MayoritasSulawesi & KalimantanEmas, perak, mineral
Tambang Wolfram (baru)100% (akuisisi Nov 2025)TBAWolfram (tungsten)
Tambang Emas Jubilee (baru)100% (akuisisi Des 2025)TBAEmas

πŸ“° Berita & Perkembangan Terkini

Mei 2026
Laba Bersih Q1-2026 Melonjak 35,2% β€” Investor Asing Borong Rp 455 Miliar
BUMI membukukan laba bersih USD 28,1 juta pada kuartal pertama 2026, naik 35,2% dibanding periode yang sama tahun lalu. Capaian ini mendorong minat investor asing yang mencatatkan pembelian bersih Rp 455 miliar dalam satu pekan. Kinerja positif ini didukung oleh kontribusi awal dari segmen mineral dan efisiensi biaya yang berlanjut.
Kinerja Positif
Maret 2026
Bumi Resources Luncurkan Logo Baru β€” Simbol Transformasi ke Multi-Komoditas
Perseroan secara resmi merilis identitas visual baru yang mencerminkan arah strategis sebagai perusahaan tambang multi-komoditas berstandar global. Logo baru akan diterapkan bertahap sepanjang 2026 di semua platform komunikasi, lokasi operasional, dan materi investor. Manajemen menyebut langkah ini sebagai penanda babak baru transformasi perseroan.
Transformasi Korporat
November–Desember 2025
Akuisisi Tambang Wolfram dan Jubilee β€” Ekspansi Mineral Strategis
Dalam dua bulan berturut-turut, BUMI menuntaskan akuisisi penuh tambang Wolfram (November 2025) dan tambang emas Jubilee (Desember 2025). Kedua tambang ini dijadwalkan beroperasi komersial pada Agustus 2026. Langkah ini merupakan bagian dari rencana ambisius meningkatkan kontribusi EBITDA non-batu bara hingga 40% pada 2027.
Akuisisi Strategis
November 2025
KPC dan Arutmin Raih Subroto Award 2025 β€” Pengakuan Kinerja Operasional
Kedua anak usaha utama BUMI, PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia, meraih penghargaan bergengsi Subroto Award 2025 dari Kementerian ESDM RI atas prestasi dalam bidang keselamatan pertambangan, efisiensi operasional, dan kontribusi pada ketahanan energi nasional. Penghargaan ini memperkuat reputasi operasional BUMI di mata investor dan regulator.
Penghargaan

βš–οΈ Risiko & Peluang

Risiko Utama

Siklisitas harga batu bara tetap menjadi risiko nomor satu. Harga rata-rata FOB BUMI turun 17% di 2025 menjadi USD 59,7/ton, dan proyeksi 2026 diprediksi stagnan. Perusahaan tidak memiliki kendali penuh atas harga jual karena sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar global, permintaan dari Tiongkok dan India, serta kebijakan energi internasional. Risiko Tinggi

Transisi energi dan tekanan ESG dalam jangka panjang menjadi ancaman eksistensial bagi bisnis batu bara. Banyak lembaga keuangan global mulai membatasi pembiayaan untuk proyek berbasis energi fosil, dan target net-zero dari berbagai negara pembeli dapat menekan permintaan ekspor dalam dekade mendatang. Risiko Tinggi β€” Jangka Panjang

Risiko struktur grup yang kompleks perlu dicermati investor. Dengan banyaknya entitas anak, asosiasi, ventura bersama, dan kepentingan nonpengendali (NCI) yang mencapai USD 1,27 miliar, tidak semua laba konsolidasian menjadi hak pemegang saham entitas induk. Investor harus selalu mengacu pada laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk, bukan laba konsolidasian bruto. Risiko Moderat

Kebutuhan belanja modal yang besar β€” arus kas investasi FY2025 mencapai negatif USD 258 juta, jauh melampaui arus kas operasi USD 58,6 juta β€” menunjukkan BUMI masih sangat bergantung pada pendanaan eksternal untuk mendukung ekspansi. Peningkatan beban bunga dari USD 21 juta menjadi USD 26,7 juta mengonfirmasi tekanan ini. Risiko Moderat

Risiko impairment aset tambang perlu diperhatikan. Properti pertambangan senilai USD 1,58 miliar bergantung pada asumsi jangka panjang terkait harga komoditas dan cadangan. Perubahan asumsi dapat memicu penurunan nilai yang signifikan. Risiko Moderat

Peluang Utama

Diversifikasi mineral memberikan narasi pertumbuhan baru. Dengan akuisisi tambang Wolfram dan Jubilee serta portofolio emas melalui BRMS, BUMI memposisikan diri sebagai pemain di pasar mineral kritis yang justru mendapat momentum dari transisi energi (wolfram untuk teknologi pertahanan, emas sebagai aset lindung nilai). Target kontribusi EBITDA non-batu bara 40% pada 2027 adalah ambisius namun realistis jika akuisisi berjalan sesuai jadwal. Peluang Tinggi

Permintaan batu bara Asia yang resilien. Meski transisi energi bergulir, India, Tiongkok, Vietnam, dan Filipina masih sangat membutuhkan batu bara termal untuk pembangkit listrik selama satu hingga dua dekade ke depan. BUMI yang memiliki cadangan besar dan infrastruktur logistik matang berada di posisi ideal untuk memenuhi permintaan tersebut. Peluang Tinggi

Efisiensi biaya yang berlanjut terbukti mampu meningkatkan margin secara dramatis β€” margin bruto naik dari 12,5% ke 17,5% meski harga batu bara turun. Jika harga batu bara pulih ke kisaran USD 70–80/ton, kombinasi volume produksi besar dan biaya yang sudah dioptimalkan dapat menghasilkan lonjakan profitabilitas yang signifikan. Peluang Moderat

Kuasi reorganisasi menciptakan fondasi bersih untuk dividen masa depan. Setelah eliminasi defisit historis, BUMI kini memiliki saldo laba positif pertama sejak lama. Jika laba terus tumbuh, peluang pembagian dividen pertama dalam sejarah modern perusahaan dapat menjadi katalis sentimen positif yang kuat. Peluang Jangka Menengah

🌿 ESG & Keberlanjutan

Sebagai produsen batu bara terbesar Indonesia, BUMI menghadapi ekspektasi ESG yang semakin tinggi dari investor institusional global. Perseroan merespons dengan menerbitkan Laporan Keberlanjutan tahunan sesuai standar Global Reporting Initiative (GRI) dan POJK 51, dengan laporan 2024 diterbitkan pada April 2025. Pada 2025, BUMI meraih dua penghargaan bergengsi: Best Corporate Emission Reduction Transparency Award dan Indonesia CSR Awards β€” sinyal bahwa upaya transparansi emisi mulai diakui industri.

🌍 Environmental (Lingkungan) 58 / 100
ISO 14001 aktif di KPC & Arutmin. Program reklamasi dan revegetasi melibatkan komunitas lokal. Inisiatif 2025: IFRS framework alignment & Scope 3 emission disclosure. Tetap terbatas oleh sifat bisnis berbasis energi fosil.
πŸ‘₯ Social (Sosial) 65 / 100
Lebih dari 25.000 karyawan langsung & tidak langsung. Program CSR aktif di wilayah operasional Kalimantan. Penghargaan Indonesia CSR Awards 2025. Inisiatif hak asasi manusia (HAM due diligence) memasuki tahun ketiga pada 2025.
πŸ›οΈ Governance (Tata Kelola) 60 / 100
Pengungkapan beneficial owner (Anthoni Salim & Nirwan Bakrie) secara eksplisit pada Feb 2026 mencerminkan transparansi kepemilikan yang membaik. Laporan keuangan tahunan diaudit oleh KAP independen. Struktur grup yang kompleks dengan banyak entitas masih menjadi tantangan tata kelola.

Tantangan ESG terbesar BUMI tetaplah emisi karbon dari operasi batu bara dalam skala puluhan juta ton per tahun. Inisiatif Scope 3 Emission Disclosure yang diluncurkan 2025 menunjukkan kesadaran akan pentingnya transparansi rantai nilai emisi secara menyeluruh. Ke depan, keberhasilan diversifikasi ke mineral strategis β€” yang memiliki profil ESG lebih baik dibanding batu bara β€” akan menjadi kunci penilaian ESG investor jangka panjang. Perseroan menargetkan keseimbangan batu bara dan non-batu bara pada 2031, sebuah target yang jika tercapai akan mengubah profil ESG BUMI secara fundamental.