PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk BJTM

๐Ÿ“… 29 Mei 2026 ๐Ÿฆ Keuangan ยท Perbankan ยท BPD ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ IDX ยท Jakarta ๐Ÿ’น Harga: Rp 600 (per 29 Mei 2026)

Kapitalisasi Pasar
Rp 9,01T
15,015 juta lembar ร— Rp 600
Pend. Bunga Bersih 2025
Rp 6,10T
+12,1% YoY
Laba Bersih 2025
Rp 1,54T
+20,65% YoY
Dividen per Saham 2025
Rp 56,62
Yield 9,44% ยท Total Rp 850,17M

๐Ÿ›๏ธ Profil Singkat

PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk, yang lebih dikenal publik sebagai Bank Jatim, adalah bank pembangunan daerah (BPD) milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang telah berdiri sejak 17 Agustus 1961. Selama lebih dari enam dekade, Bank Jatim mengemban misi ganda: sebagai institusi keuangan komersial yang menghasilkan profit bagi pemegang saham, sekaligus menjadi mitra strategis pembangunan ekonomi daerah Jawa Timur. Bank ini resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada 12 Juli 2012 dengan kode emiten BJTM, menjadi salah satu dari sedikit BPD yang berstatus perusahaan terbuka (Tbk).

Kantor pusat Bank Jatim berlokasi di Jl. Basuki Rahmat No. 98-104, Surabaya, Jawa Timur. Dengan jaringan yang tersebar di seluruh Jawa Timur dan beberapa kota besar di Indonesia, Bank Jatim melayani segmen aparatur sipil negara (ASN), pensiunan, pelaku UMKM, korporasi, serta masyarakat umum. Per akhir 2025, bank ini mengelola aset individual sebesar Rp 120+ triliun dengan jaringan ratusan kantor cabang dan unit layanan.

InformasiDetail
Nama ResmiPT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk
Nama PopulerBank Jatim
Kode Saham (IDX)BJTM
Tanggal Berdiri17 Agustus 1961
IPO / Listing12 Juli 2012
Kantor PusatSurabaya, Jawa Timur
Sektor / SubsektorKeuangan / Perbankan Daerah (BPD)
Jumlah Saham Beredarยฑ15.015 juta lembar
Total Aset (2025, individual)ยฑRp 120 triliun
Total Aset (2025, konsolidasi)Rp 168,86 triliun
Pemegang Saham PengendaliPemerintah Provinsi Jawa Timur (51,13%)
RatingPlatinum โ€” ASRRAT 2025

โš™๏ธ Model Bisnis

Fondasi bisnis sebagai bank pegawai negeri. Tulang punggung pendapatan Bank Jatim selama puluhan tahun adalah kredit konsumer, khususnya Kredit Multiguna (KMG) yang ditujukan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), anggota TNI/Polri, dan pensiunan. Pinjaman jenis ini memiliki tingkat kredit macet (NPL) yang sangat rendah karena cicilan dipotong langsung dari gaji melalui mekanisme payroll. Keunggulan struktural ini memberi Bank Jatim kualitas aset yang stabil dan biaya provisi yang relatif terkendali, bahkan di tengah tekanan ekonomi makro.

Diversifikasi ke kredit produktif. Menyadari ketergantungan yang tinggi pada segmen konsumer, manajemen Bank Jatim secara konsisten mendorong porsi kredit produktif โ€” yakni kredit kepada UMKM, komersial, dan korporasi. Kredit UMKM mendapat perhatian khusus karena selaras dengan mandat BPD sebagai penggerak ekonomi daerah, sekaligus mengakses pasar yang lebih luas di Jawa Timur yang merupakan provinsi dengan kepadatan pelaku usaha kecil terbesar kedua di Indonesia. Kredit korporasi biasanya menyasar proyek infrastruktur daerah dan BUMD yang bersinggungan langsung dengan ekosistem pemerintah Jawa Timur.

Pendapatan bunga sebagai mesin utama. Sebagaimana umumnya bank konvensional, pendapatan bunga bersih (Net Interest Income / NII) adalah kontributor terbesar terhadap laba. Pada 2025, NII Bank Jatim tercatat Rp 6,1 triliun, tumbuh 12,1% YoY. Net Interest Margin (NIM) bank ini tergolong tinggi dibandingkan rata-rata industri perbankan nasional, berkat dominasi kredit konsumer berbunga relatif lebih tinggi. Pendapatan nonbunga โ€” termasuk fee-based income dari layanan transaksi, trade finance, dan jasa kustodian โ€” menjadi segmen yang terus dikembangkan, mencapai Rp 1,1 triliun pada 2025 (+19,2% YoY).

Strategi digitalisasi dan perluasan layanan. Bank Jatim menjalankan transformasi digital melalui platform mobile banking dan internet banking, dengan transaksi digital yang mencapai Rp 65,77 triliun sepanjang 2025 โ€” pertumbuhan yang mencerminkan adopsi nasabah terhadap layanan perbankan non-tunai. Kerja sama lintas entitas dalam kelompok usaha bank (KUB) juga diperkuat untuk memperluas jangkauan layanan, termasuk sinergi dengan BPR Jatim dan lembaga keuangan mikro daerah.

Sumber pendanaan (liabilitas). Dana pihak ketiga (DPK) โ€” terdiri dari tabungan, giro, dan deposito dari nasabah individual, PEMDA, dan BUMD โ€” menjadi sumber pendanaan utama Bank Jatim. Dana pemerintah daerah yang parkir di Bank Jatim menjadi keunggulan kompetitif tersendiri: bank ini memiliki akses ke dana murah (low-cost fund) dari institusi pemerintah yang sulit ditandingi oleh bank swasta. Per 2025 (konsolidasi), DPK mencapai Rp 127,24 triliun, tumbuh 41,36% YoY.

๐Ÿ“Š Kinerja Keuangan

Perjalanan keuangan Bank Jatim dalam lima tahun terakhir menggambarkan siklus yang menarik: pertumbuhan stabil di 2021โ€“2022, tekanan di 2023โ€“2024, lalu pemulihan kuat di 2025. Tahun 2021 dan 2022 menjadi periode solid dengan laba bersih masing-masing Rp 1,52 triliun dan Rp 1,54 triliun, ditopang NIM tinggi dan kualitas aset yang membaik pasca-pandemi, termasuk penurunan NPL dari 4,48% menjadi 2,83%.

Tahun 2023 menjadi tahun konsolidasi โ€” laba turun tipis ke Rp 1,47 triliun, namun kualitas aset terus membaik (NPL 2,49%) dan NIM justru naik ke 5,57%. Tekanan berlanjut di 2024 dengan laba yang merosot lebih dalam ke Rp 1,28 triliun, di tengah lonjakan biaya operasional dan investasi transformasi digital. Namun, total aset mencatat pertumbuhan signifikan ke Rp 118 triliun (+13,7% YoY), menandai ekspansi bisnis yang sesungguhnya sedang berlangsung.

Tahun 2025 menjadi titik balik. Laba bersih individual melonjak 20,65% ke Rp 1,54 triliun, sementara secara konsolidasi mencapai Rp 1,617 triliun (+24,80% YoY). Pendapatan bunga bruto tumbuh 6,7% ke Rp 8,6 triliun, NII naik 12,1% ke Rp 6,1 triliun, dan PPOP (laba operasi pra-provisi) melejit 27,3% ke Rp 3,68 triliun โ€” sinyal bahwa perbaikan efisiensi operasional mulai membuahkan hasil. Ekuitas bank tumbuh 9,1% menjadi Rp 13,6 triliun, memperkuat basis permodalan untuk ekspansi ke depan.

Pendapatan Bunga Bersih & Laba Bersih (Rp Miliar) โ€” 2021โ€“2025

Tabel Rasio Keuangan Utama

Indikator 2021 2022 2023 2024 2025
Laba Bersih (Rp M)1.5201.5401.4701.2801.540
NII (Rp M)4.810 (est.)5.120 (est.)5.440 (est.)5.7006.100
NIM5,11%5,11%5,57%~5,8% (est.)~6,1% (est.)
ROE17,26%16,24%13,96%~11,5% (est.)~11,3%
NPL (Gross)4,48%2,83%2,49%~2,3% (est.)~2,1% (est.)
DPS (Rp)โ€”52,1154,3954,7156,62

Rasio Valuasi โ€” Berdasarkan Harga Rp 600 (29 Mei 2026)

RasioNilaiKeterangan
PER5,85ร—Harga / EPS (Rp 600 / Rp 102,57)
PBV0,66ร—Harga / BV per lembar (Rp 600 / Rp 905,76)
EPS 2025Rp 102,57Laba Rp 1,54T / 15.015 juta lembar
BV per lembarRp 905,76Ekuitas Rp 13,6T / 15.015 juta lembar
Dividend Yield9,44%Rp 56,62 / Rp 600 ร— 100%
Market CapRp 9,01T15.015 juta ร— Rp 600
DER (bank)~6,6ร—Total Liabilitas / Ekuitas (wajar untuk bank)

Catatan: PBV di bawah 1ร— dan PER <6ร— mencerminkan valuasi yang relatif murah untuk bank dengan fundamental sehat. Dividend Yield 9,44% sangat kompetitif dibandingkan instrumen pendapatan tetap.

๐Ÿฅง Struktur Kepemilikan & Segmen Bisnis

Bank Jatim adalah institusi keuangan semi-pemerintah yang sahamnya dipegang secara dominan oleh entitas pemerintah daerah. Pemerintah Provinsi Jawa Timur menjadi pemegang saham pengendali dengan porsi 51,13%, menjadikan bank ini sebagai instrumen kebijakan pembangunan Pemprov Jatim. Selain Pemprov, delapan pemerintah daerah kabupaten/kota di Jawa Timur turut tercatat sebagai pemegang saham institusional dengan total kepemilikan sekitar 28,35%. Sisanya, sebesar 20,52%, dimiliki oleh publik โ€” baik investor domestik maupun asing โ€” yang dapat bertransaksi di Bursa Efek Indonesia.

Struktur Kepemilikan Saham BJTM (%)

Dari sisi komposisi kredit, Bank Jatim masih didominasi oleh kredit konsumer yang menyasar ASN dan pensiunan โ€” segmen yang secara historis menghasilkan kualitas aset terbaik. Porsi kredit produktif (korporasi, komersial, UMKM) terus didorong untuk meningkat, sesuai arahan regulator dan strategi diversifikasi jangka menengah bank.

Komposisi Kredit Berdasarkan Segmen โ€” 2025 (est.)

* Komposisi kredit merupakan estimasi berdasarkan laporan publik dan tren historis. Angka spesifik dapat berbeda dengan laporan resmi.

๐Ÿ“ฐ Berita & Perkembangan Terkini

07 Mei 2026
RUPS 2026: Dividen Rp 850,17 Miliar untuk Tahun Buku 2025
Dalam RUPS Tahunan yang digelar di Surabaya (6 Mei 2026), Bank Jatim menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp 56,62 per saham (total Rp 850,17 miliar) untuk tahun buku 2025, naik dari Rp 54,71 per saham di tahun sebelumnya. Dividend yield mencapai 9,44% terhadap harga saham saat ini โ€” salah satu yang tertinggi di sektor BPD. RUPS juga melakukan perombakan pengurus perseroan.
Dividen Naik
20 Mei 2026
Transaksi Digital BJTM Tembus Rp 65,77 Triliun Sepanjang 2025
Bank Jatim mencatat pertumbuhan signifikan dalam ekosistem digital, dengan total nilai transaksi digital mencapai Rp 65,77 triliun sepanjang 2025. Angka ini mencerminkan akselerasi adopsi mobile banking dan internet banking oleh nasabah, seiring strategi transformasi digital yang digenjot manajemen sebagai pilar pertumbuhan jangka menengah.
Transformasi Digital
Maret 2026
Laba Bersih 2025 Melonjak 20,65%, Tembus Rp 1,54 Triliun
Bank Jatim merilis laporan keuangan tahunan 2025 yang menunjukkan pemulihan kuat: laba bersih individual naik 20,65% YoY ke Rp 1,54 triliun, sementara konsolidasi mencapai Rp 1,617 triliun (+24,80%). PPOP melonjak 27,3% ke Rp 3,68 triliun. Ekuitas tumbuh 9,1% menjadi Rp 13,6 triliun. Kredit konsolidasi tumbuh 46,65% YoY ke Rp 110,50 triliun, sebagian besar didorong konsolidasi entitas anak.
Kinerja Kuat
Oktober 2025
Bank Jatim Raih Platinum Rank dalam ASRRAT 2025
Bank Jatim berhasil naik peringkat ke Platinum dalam Asia Sustainability Reporting Rating and Rankings (ASRRAT) 2025, meningkat dari peringkat Gold yang sebelumnya diraih secara konsisten. Pencapaian ini mencerminkan komitmen peningkatan kualitas implementasi prinsip ESG dan pelaporan keberlanjutan, termasuk pembiayaan sektor ekonomi hijau yang melonjak hampir empat kali lipat pada 2024.
ESG ยท Platinum ASRRAT

โš ๏ธ Risiko & Peluang

Risiko Utama

Konsentrasi segmen dan ketergantungan pada ASN. Dominasi kredit konsumer untuk ASN adalah pedang bermata dua. Meskipun NPL-nya rendah, perubahan kebijakan kepegawaian negeri โ€” seperti pemangkasan jumlah PNS atau perubahan mekanisme gaji โ€” dapat menekan permintaan kredit secara signifikan. Risiko Sedang

Persaingan dari bank nasional dan fintech. Bank-bank besar nasional semakin agresif masuk ke pasar ASN dan pensiunan melalui produk payroll dan pinjaman digital. Sementara fintech lending terus menggerus pangsa kredit UMKM. Bank Jatim harus terus meningkatkan proposisi nilai dan kecepatan layanan untuk mempertahankan basis nasabah. Risiko Sedang

Tekanan margin dari suku bunga. Dalam siklus penurunan suku bunga, NIM bank cenderung tertekan karena yield kredit turun lebih cepat dari penurunan biaya dana, terutama pada deposito dengan tenor panjang. Hal ini dapat menekan NII yang menjadi tulang punggung profitabilitas bank. Risiko Sedang

Risiko konsentrasi geografis. Meski merupakan keunggulan, fokus di Jawa Timur membuat bank ini rentan terhadap guncangan ekonomi regional, bencana alam, atau perubahan kebijakan Pemprov yang dapat memengaruhi aliran dana pemerintah yang diparkir di bank. Risiko Rendah-Sedang

Peluang Utama

Ekonomi Jawa Timur yang dinamis. Jawa Timur adalah provinsi dengan PDRB terbesar kedua di Indonesia, dengan basis industri, perdagangan, dan pertanian yang beragam. Pertumbuhan ekonomi daerah yang konsisten menciptakan permintaan kredit produktif yang besar โ€” ruang yang masih bisa diisi Bank Jatim secara lebih agresif. Peluang Tinggi

Potensi pendalaman kredit UMKM dan green finance. Dengan target penyaluran kredit hijau yang telah tumbuh hampir empat kali lipat di 2024, Bank Jatim memiliki momentum untuk menjadi pemimpin pembiayaan berkelanjutan di antara BPD. Akses ke program KUR dan pembiayaan hijau bersubsidi pemerintah membuka jalur pertumbuhan baru. Peluang Tinggi

Ekspansi ekosistem KUB dan sinergi anak usaha. Pembentukan kelompok usaha bank (KUB) membuka peluang cross-selling layanan antara Bank Jatim, BPR Jatim, dan entitas anak lainnya. Konsolidasi ini juga memperbesar skala bisnis yang tecermin pada lonjakan aset konsolidasi ke Rp 168,86 triliun. Peluang Strategis

Monetisasi platform digital. Dengan Rp 65,77 triliun transaksi digital di 2025, Bank Jatim memiliki fondasi untuk mengembangkan pendapatan berbasis fee dari layanan digital, termasuk QRIS, open banking API, dan layanan keuangan untuk ekosistem pemerintah daerah. Peluang Jangka Menengah

๐ŸŒฟ ESG & Keberlanjutan

Bank Jatim telah mengimplementasikan prinsip ESG secara formal sejak 2020, mengacu pada POJK No. 51/POJK.03/2017 tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan. Komitmen ini bukan sekadar kepatuhan regulasi โ€” Bank Jatim mendemoraikan integrasi ESG ke dalam proses bisnis inti, termasuk kebijakan perkreditan, manajemen risiko lingkungan, dan program sosial kemasyarakatan. Pencapaian puncak datang pada 2025, saat bank ini meraih Platinum Rank dalam ASRRAT โ€” peringkat tertinggi dalam kategori pelaporan keberlanjutan di Asia.

๐ŸŒฑ Environmental (Lingkungan) 78 / 100
Pembiayaan sektor hijau Rp 5,6T (2024), naik ~4ร— dari Rp 1,3T (2023). Fokus: efisiensi energi Rp 2,4T, pengelolaan air Rp 557M, lahan berkelanjutan Rp 2T+. Program pengurangan emisi operasional kantor.
๐Ÿค Social (Sosial) 72 / 100
Program CSR aktif di bidang pendidikan (beasiswa, pelatihan wirausaha), kesehatan (fasilitas masyarakat), seni-budaya Jawa Timur, dan pemberdayaan UMKM. Inklusi keuangan untuk segmen unbankable di pelosok Jawa Timur.
๐Ÿ›๏ธ Governance (Tata Kelola) 82 / 100
Platinum ASRRAT 2025. Kepatuhan penuh POJK tata kelola BPD. Transparansi laporan tahunan, laporan keberlanjutan, dan keterbukaan informasi IDX. Implementasi manajemen risiko terintegrasi. Direksi aktif borong saham BJTM sebagai sinyal keyakinan terhadap prospek perusahaan.

Dalam dimensi lingkungan, Bank Jatim menjadi salah satu pelopor green banking di antara bank-bank daerah, dengan lonjakan pembiayaan hijau yang dramatis pada 2024 โ€” dari Rp 1,3 triliun menjadi Rp 5,6 triliun. Efisiensi proses bisnis berbasis ESG juga diklaim berkontribusi pada penghematan biaya operasional. Di sisi tata kelola, kepercayaan direksi terhadap prospek bank tercermin dari aksi borong saham BJTM yang dilakukan secara kolektif oleh tim manajemen โ€” sinyal positif yang jarang terlihat di emiten BPD.