Home

Belajar Android dan iOS

· xedi

Saya mulai mendalami pengembangan aplikasi Android sekitar pertengahan tahun 2015. Sedangkan untuk iOS, saya baru mulai belajar di bulan Oktober 2023—jedanya memang cukup lama. Keinginan mempelajari iOS muncul karena saya berencana merilis beberapa aplikasi yang sebelumnya sudah tersedia di Play Store agar bisa diunggah juga di App Store. Meskipun jumlah pengguna iPhone di Indonesia masih jauh di bawah Android, bukan berarti tidak ada peluang—pengguna iPhone disini tetap lumayan banyak. Dan “mereka” –pengguna iPhone katanya orang-orang berduit. 

Jetpack Compose Multiplatform

Pada awalnya, saya mencoba menggunakan Jetpack Compose dari Google untuk mengembangkan aplikasi iOS. Jetpack Compose sendiri adalah toolkit dari Google yang menerapkan paradigma deklaratif untuk membangun antarmuka pengguna (UI) di platform Android. Dengan pendekatan deklaratif, kita hanya perlu menentukan tampilan yang diinginkan, dan Compose akan mengurus pembaruan UI secara otomatis ketika ada perubahan data. Bahkan sudah ada Compose Multiplatform yang mendukung Android, iOS, web, dan desktop.

Setelah mempelajari dan menjalankannya di Android, saya cukup senang dengan hasilnya—terutama tampilan render-nya yang rapi. Namun, soal performa, saya belum dapat banyak berkomentar karena aplikasi yang saya buat masih sederhana, sehingga belum cocok untuk melakukan uji kinerja yang mendalam.

Ketika menjalankan aplikasi Jetpack Compose di iPhone, saya merasa kurang nyaman. Saya sempat berasumsi bahwa dengan Jetpack Compose, semua proses akan otomatis “berjalan” di iOS, tetapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Ada beberapa library yang harus disesuaikan agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Bagi yang sudah mahir pengembangan aplikasi di iOS, mungkin ini bukan kendala besar. Namun, karena saat itu saya benar-benar pemula dengan nol latar belakang iOS, saya memutuskan untuk mencari alternatif yang lebih sederhana.

Beralih ke SwiftUI

Sebagai gantinya, saya kemudian menggunakan SwiftUI, framework buatan Apple yang juga menerapkan pendekatan deklaratif—mirip dengan Jetpack Compose di Android. Karena saya sudah memahami konsep deklaratif dari Jetpack Compose, transisi ke SwiftUI pun tidak terlalu sulit. Akhirnya, SwiftUI-lah yang saya pilih untuk mengembangkan aplikasi iOS saya.


Pembelian Hardware

Untuk mengembangkan aplikasi iOS, mau tidak mau kita harus menggunakan produk Apple, yaitu Mac dan iPhone. Berikut adalah beberapa komponen yang saya beli:

  1. iPhone 13 - Garansi Resmi iBox - Blue, 128GB
  2. Rp 11.789.000
  3. Apple Mac Mini M2 Pro 2023
  4. 10-core CPU, RAM 16GB, SSD 512GB
  5. Rp 22.090.000 (x+ 6 jutaan)
  6. Akun Apple Developer (1 tahun, USD 100)
  7. Sekitar Rp 1.500.000

Saat pembelian, iPhone 14 dan 15 sebenarnya sudah rilis. Namun, saya memilih iPhone 13 karena alasan budget dan juga untuk memastikan dukungan terhadap iPhone generasi yang sedikit lebih lawas. Dengan demikian, saya dapat menguji aplikasi di perangkat yang lebih bervariasi. Ada sedikit drama di pembelian Apple Mac Mini. Pesanan saya itu sudah jelas “Mac Mini” . Saat barang datang, ( itu dibeli di TokoPedia ) saya terkejut yang datang adalah MacBook Pro yang harganya 30 jutaan . Haha, saya untung dong . Kemudian penjual menyadari kesalahannya, dan menghubungi saya kalau salah kirim. Saya disuruh kirim ulang. Setelah saya coba MacBook Pro nya akhirnya saya tidak mau mengirim nya ulang. Udah ini aja deh. malas kirim ulang. Penjual saya hubungi berapa saya harus bayar uang tambahannya. Penjual setuju, lalu saya kirim uang kekurangan sesuai kesepakatan. 

Setelah hardware tiba, sebulan kemudian saya rilis app dengan SwiftUI  💥**