Home

Mengenal bursa saham

· xedi

Saya sudah kenal istilah bursa saham sejak lama, mungkin sekitar tahun 2011. Tapi waktu itu ya cuma sebatas tahu saja. Saya sering mendengar informasi tentang saham dan memang sempat tertarik, hanya saja karena kesibukan dan minimnya pemahaman, saya belum pernah benar-benar mencoba. Jadi, saham itu seperti ada di radar, tapi belum pernah saya jalani secara serius. Lalu datanglah masa pandemi tahun 2020. Saat itu media sosial ramai sekali membahas saham. Mulai dari tips investasi sampai cerita orang-orang yang berhasil mendapatkan keuntungan besar. Dari situ saya mulai berpikir, “Menarik juga kalau dicoba.” Akhirnya pada September 2020, saya memberanikan diri membuka akun sekuritas. Kebetulan saat itu ada dana menganggur, dan kondisi pasar juga sedang turun akibat pandemi COVID-19.

Saya masih ingat, dalam dua hari berturut-turut saya menyetor dana ke akun sekuritas. Tanggal 14 September setor Rp25 juta, lalu tanggal 15 September setor lagi Rp25 juta. Total Rp50 juta siap digunakan untuk membeli saham pertama. Jujur saja, waktu itu saya masih sangat bingung harus membeli saham apa. Jadi saya memilih yang menurutku paling aman: TLKM dan BBRI. Alasan memilih dua saham itu cukup sederhana. Keduanya termasuk saham blue chip dan bisnisnya sangat mudah dipahami dalam kehidupan sehari-hari. Telkom jelas dekat dengan kebutuhan masyarakat, mulai dari internet sampai layanan telekomunikasi. Begitu juga Bank BRI yang cabangnya bahkan sampai ke pelosok desa. Untuk pemula seperti saya, pilihan itu terasa lebih nyaman dan masuk akal.

Setelah mulai membeli saham, saya pun mulai serius belajar. Saya membaca buku investasi dari penulis terkenal, menonton video YouTube dari investor ternama, dan mencoba memahami bagaimana dunia saham bekerja. Dari awal, saya punya kriteria yang cukup sederhana dalam memilih saham: perusahaan harus sehat, tidak merugi, rutin membagikan dividen, dan memiliki bisnis yang jelas terlihat di kehidupan sehari-hari. Tidak perlu terlalu rumit, yang penting logis dan membuat saya yakin. Sejak pertama kali berinvestasi, saya juga mulai rutin menyisihkan uang setiap bulan untuk membeli saham. Emiten yang saya beli semakin beragam seiring waktu. Prinsip saya sederhana, yaitu investasi untuk jangka panjang. Banyak orang menyebutnya sebagai “nabung saham”. Kalau melihat histori transaksi saya, aktivitas beli memang jauh lebih banyak dibanding jual. Karena bagi saya, investasi itu lebih tentang menanam untuk masa depan, bukan sekadar mencari untung cepat.

Dari investasi saham ini, saya merasakan dua sumber keuntungan, yaitu capital gain dan dividen. Dividen yang saya terima dari portofolio sudah cukup lumayan. Dari sisi gain dan loss juga beragam, ada saham yang memberi keuntungan, ada juga yang masih minus. Saya sadar sejak awal bahwa saham bukan hanya soal untung, tetapi juga punya resiko rugi. Itu hal yang pasti dipahami setiap investor saham. Seiring berjalannya waktu, cara saya memilih emiten juga mulai berubah. Pertimbangannya menjadi lebih banyak dan lebih matang dibanding saat pertama kali mulai berinvestasi.